|
Jakarta-HARIAN BANGSA
Jaringan teroris Aceh Besar yang sedang diburu Densus 88 Polri memiliki hubungan dengan kelompok teror Noordin M Top. Diduga jaringan ini memiliki kekuatan persenjataan yang cukup besar karena mudah mendapat pasokan senjata dari Thailand dan Filipina selatan.
"Setahu saya untuk persenjataan cukup besar," ujar pengamat terorisme Al Chaidar, Minggu (7/3). Namun untuk kekuatan pembuatan bom, Al Chaidar menyangsikan jaringan ini memiliki cukup amunisi untuk membuat bom. "Dari kelompok Sulawesi, Taufik Bulaga itu memang sangat ahli, tapi apa memang mereka mudah dapat bahannya?" paparnya. Pria asli Aceh ini menduga pemimpin jaringan Aceh Besar ini berasal dari kelompok Pandeglang dan sudah terdeteksi oleh aparat. "Saya kira itu Saifudin dari kelompok Pandeglang, Banten," katanya. Menurutnya, jaringan teroris Aceh Besar memang gabungan dari beberapa kelompok teror seperti kelompok Pandeglang, kelompok Cilacap, dan kelompok Sulawesi termasuk kelompok Poso. Kelompok-kelompok teror itu bersatu sejak 1995 di Aceh Besar dan mengadakan pelatihan militer di kamp-kamp pelatihan yang dibangun di pedalaman hutan sejak 1997. "Mereka memang beberapa kali membantu aksi Noordin," terangnya. Terorisme di kota Serambi Makkah ini lebih berbahaya dibandingkan jaringan terorisme yang dipimpin gembong teroris Noordin M Top. Jaringan Aceh lebih terstruktur, global dan langsung berhubungan dengan Alqaeda pusat. "Ini lebih besar dari Noordin Top. Noordin bergerak solo, dengan formasi 124. Kalau yang di Aceh ini persis formasi Mindano, lebih global," kata pengamat terorisme Mardigu, Minggu (7/3). Menurut Mardigu, Alqaeda memanfaatkan Mindano untuk latihan perang, tidak hanya untuk memerdekakan Filipina Selatan, tapi juga lebih besar lagi untuk menyiapkan kader terorisme. Nah dalam kasus Aceh, Alqaeda juga memakai Aceh untuk pusat latihan teroris setelah sebelumnya gagal di Ambon dan Poso. "Aceh itu teritori berikutnya setelah Ambon dan Poso. Jadi terorisme ini benar-benar dari pusatnya yang holistik. Jadi sangat berbahaya," tegas Mardigu. Seperti apa model terorisme di Aceh, Mardigu belum bisa menjelaskannya. Namun menurutnya, jaringan Aceh ini akan berbeda dengan gaya Noordin yang melakukan pengeboman. Aceh lebih dijadikan pusat pelatihan terorisme. Ketua DPR Marzuki Alie ikut berduka atas meninggalnya beberapa personel Brimob yang ikut dalam aksi penyergapan teroris di Aceh. Marzuki berharap sistem operasi terhadap terorisme lebih hati-hati sehingga tidak ada korban dari pihak aparat dan masyarakat. "Secara pribadi dan ketua dewan saya ikut menyatakan bela sungkawa atas korban dalam aksi penyergapan terorisme apapun, itu tugas negara. Kalau ikhlas insyaallah masuk surga," kata Marzuki, Minggu (7/3). Marzuki berharap meninggalnya beberapa personel brimob dalam aksi peryergapan terorisme di Aceh tidak menyurutkan semangat prajurit lainnya. Namun, agar operasi tepat sasaran dan efektif, harus diambil strategi yan jitu. "Tugas negara itu amanah yang jika ditegakkan insyallah kalau meninggal dalam tugas ya sahid. Jadi tidak perlu prajurit lainnya berkecil hati dan hilang semangat," paparnya. "Memang untuk ke depan harus lebih hati-hati dan merumuskan strategi yang lebih jitu agar tidak ada korban lagi," imbuhnya. Marzuki meminta semua pihak terlibat aktif dalam perang terhadap terorisme. Hal ini sangat penting agar tugas perang terhadap terorisme tidak hanya dipasrahkan pada pundak aparat yang pasti tidak mungkin bisa jika tidak dibantu masyarakat. "Terorisme ini luar bisa hebatnya. Dia masuk di mana-mana. Apalagi di daerah yang terbuka ada kerawanan dan ketidakpuasan. Karena itu, perlu ditingkatkan kewaspadaan dari aparat, BIN dan masyarakat," paparnya.
|