|
Kamis, 15 Juli 2010 13:27 |
Apa tidak mungkin di antara jamaah peziarah itu masih ada yang lemah iman? Masih doyan mistik, sering ke dukun, hobi kemeyan sehingga peluang musyrik bisa saja terjadi saat peziarah ada di hadapan makam yang diziarahi. Jika ini terjadi, maka sungguh fatal resiko ziarah kubur bagi orang yang tidak mapan iman.
|
|
|
Jumat, 07 Mei 2010 12:42 |
|
Terjemahan al-A'raf: 103-105
103: Kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan. 104: Dan Musa berkata:" Wahai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam." 105: Wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku." |
|
Kamis, 18 Maret 2010 11:12 |
|
“..kadzalik nukhrij al-mauta la’llakum tadzakkarun”. Dituntut agar manusia bisa memetik pelajaran dari tetumbuhan yang muncul setelah bumi tersiram air hujan. Begitulah nanti, kita akan dihidupkan kembali setelah lama mati di alam kubur. Tidak ada yang terkecuali dari aturan ini. Ini sudah keputusan Tuhan yang tak terganggu gugat. Dan dengan peringatan ini, diharapkan umat manusia sadar dan beriman kepada Sang Pencipta, lalu berbuat kebajikan dan tekun beribadah.
|
|
Kamis, 24 Desember 2009 13:00 |
Kurang suci apa, kurang sakral apa, kurang religi apa suasana di Baitullah dalam al-Masjid al-Haram Makkah. RumahNya adalah pusat ibadah dan sebagai tuan rumah, tentu Tuhan lebih “ada” di situ menyambut tamu-tamuNya yang datang melakukan sowanan. Tak boleh ada tabir yang memisah antara kaum pria dan wanita. Di hadapanNya, semua diperlakukan sama tanpa diskriminitas gender. Karena Dia sendiri adalah Pembatas. Dialah energi ketaqwaan yang bersemayam dalam jiwa hambaNya yang beriman. |
|
Rabu, 25 November 2009 13:32 |
“kama bada’akum ta’udun..”. Tuhan menciptakan kita dari tiada menjadi ada. Lalu mematikan kita dan membangkitkan kembali. Menghidupkan dari materi yang sudah ada, meski rusak menjadi wujud lebih sempurna. Selanjutnya hidup terus di alam keabadian nanti tanpa batas waktu. Alam baqa’ artinya alam kekekalan, alam akhirat artinya alam paling akhir tanpa ada batas akhir. Dalam studi “jadal al-Qur'an“ pada disiplin ulum al-Qur'an, penggalan ayat ini dipakai sebagai salah satu model debat al-Qur'an melawan kaum kafir yang mengingkari Hari Kebangkitan. |
|
|
«MulaiSebelumnya123BerikutnyaAkhir»
|
|
Halaman 1 dari 3 |