Kafe Sufi
Tidak Jamin Masuk Surga PDF Cetak E-mail
Selasa, 11 Agustus 2009 14:02
Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
 
Kiai Qodir PDF Cetak E-mail
Kamis, 25 Juni 2009 10:39
Semua pasti tahu. dalam hal tawadhu' (sopan santun) pada kiai, orang Madura lah contohnya, walaupun kadang-kadang kebablasan.
Alkisah pada sebuah pesantren di Sumenep yang dipimpin oleh kiai Qodir, terdapat sekitar 100 santri. Setiap ba'da Subuh, kiai mengajar ngaji (Al Quran) satu persatu santrinya dengan sabar.
 
Penderitaan PDF Cetak E-mail
Rabu, 03 Juni 2009 10:59
Tiga orang laki-laki sedang membahas tentang bentuk penderitaan apa yang paling menyedihkan.
 
Buah Kesopanan dan Kesombongan PDF Cetak E-mail
Senin, 18 Mei 2009 11:07
Pada suatu hari sang kiai memberikan ceramah, seperti biasanya mengajarkan tentang budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah). Sang kiai mengatakan orang yang sopan akan dihormati dan disegani orang. Sementara orang sombong akan dihinakan orang , dengan membuat contoh buah-buahan.
“Wahai para santri berlakulah andap asor, walau memiliki banyak ilmu semakin merunduklah, seperti buah semangka, pohonnya kecil, tetapi buahnya besar, karena itu orang tidak pernah tidak berlaku sopan pada buah ini, pasti diangkat dan diletakkan dengan sopan,”urai sang kiai dengan suara yang mantab.
“Apakah kalian tahu contoh pohon yang takabur dan tidak dihormati semua orang?”tanya sang kiai. Para santri saling menatap tidak tahu, sertahu mereka tak ada pohon yang takabur, semuanya sama saja wong barang mati. Bahkan salah seorang santri menjawab
“Tidak ada Pak Kiai pohon yang sombong,’’ujar para santri.
“Ada” jawab Kiai, “coba itu lihat pohon kelapa, dia itu menempatkan diri terlalu tinggi, sehingga orang juga seenaknya melempar buah kelapa dari atas pohon. Untuk mengupasnya juga harus dicongkel dengan linggis dan untuk membelahnya harus didera dengan gancu, itulah nasib orang sombong.” Kiai menjelaskan.
“Tetapi ada makhluk yang menghormati buah kelapa!” papar kiai dengan suara berat dan agak keras.
“wah mulia sekali dia,“kira para santri.
“Bukan, yang menghormati orang sombong itu hanya orang jahat, kalian lihat hanya maling yang menghormati buah kelapa,” jelas Kiai
“Kenapa maling berbuat begitu?” tanya santri
“Lha iya kalau kelapa dilempar akan kedengaran pemilikknya, karena itu mereka turunkan hati-hati,”jelas kiai menyindir santrinya.
“Ampun Kiai saya tidak akan mencuri lagi,” kata si Kartolo tiba-tiba berteriak minta ampun.” Saya tidak akan mencuri kelapa lagi!”
Akhirnya semua santri stahu bahwa si Kartololah yang mencuri kelapa, atas pengakuannya sendiri. Begitu cara kiai menyadarkan santrinya, tanpa harus menghukum apalagi mengusir. (nuo)


 
Tidak Istimewakan Diri PDF Cetak E-mail
Kamis, 29 Januari 2009 12:42

KETIKA berada dalam suatu perjalanan, Rasulullah Saw memerintahkan para sahabat untuk menyembelih seekor kambing.

“Aku yang akan menyembelihnya,”kata seorang sahabat.
“Aku yang akan mengulitinya,” ujar yang lain.
“Aku yang akan memasaknya,”sahabat yang ketiga tak mau ketinggalan.
Rasulullah bersabda: “Aku yang mengumpulkan kayunya.”
“Kami akan menanggung tugas Anda, ya Rasulullah!”kata sahabat-sahabat yang lain.

 
«MulaiSebelumnya12BerikutnyaAkhir»

Halaman 1 dari 2
Gus Dur dan Siklus 100 Tahunan

Senin, 17 Mei 2010

article thumbnailHINGGA kini, mungkin publik belum tahu mengapa Gus Dur sering melawan arus sehingga terkesan kontroversial. Bapak demokrasi-pluralisme itu bahkan sering pasang badan ketika memperjuangkan...
Selengkapnya

Dikhawatirkan Ada Peziarah Lemah Iman

Kamis, 15 Juli 2010

article thumbnailApa tidak mungkin di antara jamaah peziarah itu masih ada yang lemah iman? Masih doyan mistik, sering ke dukun, hobi kemeyan sehingga peluang musyrik bisa saja terjadi saat peziarah ada di hadapan...
Selengkapnya

Tidak Jamin Masuk Surga

Selasa, 11 Agustus 2009

article thumbnailSeorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca...
Selengkapnya