Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Permasalahan dan Cara Meningkatkan Potensi Pendidikan Bangsa Indonesia!

Monday, May 16, 2022 | May 16, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-05-17T03:21:57Z
Potensi Pendidikan Bangsa Indonesia - Walau telah terjadi peningkatan dalam berbagai indikator pembangunan pendidikan dan kebudayaan, seperti angka partisipasi pendidikan, pemerataan mutu pendidikan, relevansi pendidikan, dan pengembangan budaya dan bahasa, masih terdapat sejumlah permasalahan dalam upaya Kemendikbud memajukan pendidikan dan kebudayaan. 

Permasalahan dan Cara Meningkatkan Potensi Pendidikan Bangsa Indonesia!

Indonesia telah berhasil meningkatkan angka partisipasi pendidikan anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi sebagaimana ditunjukkan sebelumnya. Namun khusus untuk capaian angka APK PAUD Indonesia masih jauh dibandingkan dengan angka negara-negara lain. 

Demikian pula partisipasi perguruan tinggi belum menunjukkan peningkatan yang menjanjikan. Ada beberapa kemungkinan penyebab rendahnya tingkat partisipasi PAUD dan Dikti di Indonesia. 

Pertama, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini (the golden age) masih rendah. Kedua, akses layanan PAUD masih terbatas. Ada sekitar 30% atau 25.000 desa di Indonesia yang belum memiliki lembaga PAUD. Ketiga, masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah, tidak dapat membiayai pendidikan tinggi. 

Misalnya, di kuartil bawah pengeluaran rumah tangga, tingkat partisipasi Dikti hanya 11%. Ini jauh lebih rendah daripada tingkat pendaftaran 70% untuk kuartil yang sama. Tingkat partisipasi Dicty saat ini lebih dari 60% dan berada di kuartil teratas. Terakhir, kesadaran lulusan SMK masih rendah. Hasil belajar di tingkat dasar, menengah dan tinggi belum didorong. 

Di pendidikan dasar dan menengah, nilai siswa Indonesia pada tes PISA menunjukkan kemajuan, tetapi masih ada ruang untuk perbaikan. Hanya 29% siswa Indonesia yang tidak setuju bahwa mereka "tidak dapat banyak mengubah kecerdasan mereka", jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 63%. 

Artinya, mahasiswa Indonesia memiliki semangat kemajuan yang rendah karena merasa tidak perlu melanjutkan studi. Siswa Berpikir Progresif 32 poin lebih tinggi dalam membaca, tidak takut gagal, termotivasi dan ambisius, dan percaya bahwa pendidikan lebih penting. 

Di tingkat universitas, masalah hasil belajar tercermin dari sedikitnya jumlah lulusan perguruan tinggi. Rendahnya kualitas dan daya saing perguruan tinggi kita antara lain tercermin dari rendahnya peringkat perguruan tinggi Indonesia dalam QS World University Rankings. 

Hanya ada empat universitas Indonesia yang masuk dalam QS World University Rankings: Universitas Indonesia (Peringkat 296), Universitas Gajamada (Peringkat 320), Institut Teknologi Bandung (Peringkat 331), dan Institut Pertanian Bogor (Peringkat 600650). Antara tahun 2017 dan 2019, tingkat penyerapan tenaga kerja lulusan SMK masih jauh di bawah jumlah lulusan perguruan tinggi sains terapan. 

Pada tahun 2019, 55,08% lulusan SMK mendapatkan pekerjaan dalam waktu setahun, sedangkan 65% lulusan perguruan tinggi mendapatkan pekerjaan.

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab buruknya hasil belajar siswa Indonesia. 

Pertama, pedagogi dan efisiensi guru Indonesia masih perlu ditingkatkan. Guru sering bertindak sebagai perantara pengetahuan daripada sebagai teman belajar. Banyak guru dilaporkan tidak fokus pada pengembangan kepribadian dan mendorong keinginan untuk belajar. 

Saat guru bertanya, sekitar 90 persen jawaban siswa berupa satu kata. Cara guru mengajukan pertanyaan bersifat dangkal dan tidak mendukung munculnya kemampuan berpikir yang lebih tinggi atau kemampuan menjelaskan berpikir logis. 

Uji profisiensi guru yang dilakukan terhadap guru bahasa Indonesia menunjukkan hasil yang kurang memadai. Rata-rata UKG tertinggi tahun 2019 yang dicapai guru SD adalah 54,8. Rata-rata skor UKG tertinggi tahun 2019 yang diraih guru SMP adalah 62. Rata-rata nilai UKG hanya 57 dari nilai maksimal 100. 

Kedua, kurikulum utama Indonesia sering dianggap ketat dan berorientasi pada konten. Tidak banyak kesempatan untuk benar-benar memahami materi dan melihat kembali pembelajaran. Isi kurikulum juga dianggap terlalu teoritis dan sulit bagi guru untuk menerjemahkannya ke dalam materi pembelajaran dan kegiatan kelas secara praktis dan operasional. 

Ketiga, infrastruktur sekolah yang belum memadai, antara lain akibat bencana di dalam dan sekitar Pal, Lombok dan sekitarnya, serta kawasan pesisir Selat Sunda. Secara umum, banyak ruang kelas di sekolah-sekolah Indonesia yang rusak ringan, sedang, atau berat. Sebagian besar ruang kelas di sekolah-sekolah di Indonesia sudah bobrok. Yang paling umum adalah sekolah dasar. Hanya 27% ruang kelas sekolah dasar yang dalam kondisi baik. Rata-rata, lebih dari 50% ruang kelas di Indonesia rusak.

Selain itu, Indonesia kekurangan fasilitas laboratorium dan perpustakaan. Anda dapat melihat bahwa hampir sepertiga sekolah di Indonesia tidak memiliki perpustakaan. Selain itu, laboratorium digunakan sebagai sarana penunjang pembelajaran dalam berbagai mata pelajaran, antara lain: Misalnya, ilmu pengetahuan tidak memadai, dan kekurangan lembaga penelitian nasional telah mencapai 62,7%. Cacat terbesar terjadi pada jenjang SMK 80,5%. 

Oleh karena itu, perlu ditingkatkan fasilitas belajar utama, yaitu perpustakaan dan lembaga penelitian. Selain itu, lebih dari 40% sekolah belum memiliki akses internet, terutama di sekolah dasar. Sekolah memiliki tingkat penetrasi internet terendah di Papua dan Marc, dengan kurang dari seperempat dari semua sekolah di wilayah tersebut memiliki akses internet (Survei Potensi Desa [Podes], 2018).

Keempat, kebijakan pendidikan Indonesia belum sepenuhnya mendukung hasil belajar siswa. Terdapat bukti bahwa anggaran yang dialokasikan untuk pelatihan guru dan dukungan sekolah tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Guru dan kepala sekolah tidak diberikan insentif nyata untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Banyak guru paruh waktu dibayar di bawah upah minimum setempat. 

Kelima, di tingkat universitas diasumsikan ada empat masalah yang menyebabkan hasil belajar yang buruk. 
(1) Rendahnya relevansi dengan DU/DI, terbukti dengan rendahnya keterlibatan industri di universitas dan pengembangan kurikulum universitas serta kurangnya pemagangan yang terstruktur. program. Hal ini membuat kemampuan lulusan kurang relevan dengan kebutuhan DU/DI.
(2) kurang berkembangnya potensi dosen karena beban administrasi dosen yang tinggi, keharusan melaksanakan tridarma oleh semua dosen (tridarma seharusnya menjadi misi di tingkat institusi, bukan misi individu), kenaikan jabatan akademik yang terpusat perizinannya di kementerian, serta akreditasi yang terpaku pada administrasi dan keseragaman;
(3) kurikulum yang kaku seperti tampak dari ketiadaan kesempatan untuk mengambil mata kuliah interdisipliner yang terintegrasi dengan program studi serta terbatasnya kurikulum vokasi sistem ganda (dual TVET system);
(4) lemahnya kompetensi dosen yang dapat dilihat dari pola rekrutmen dosen berbasis kualifikasi akademik, bukan kompetensi ataupun pengalaman di DU/DI, keterbatasan pengetahuan dosen tentang praktikpraktik di DU/DI, dan 50% dosen lulus dari perguruan tinggi yang sama dengan tempatnya berkarya (masalah inbreeding). 

Di samping permasalahan rendahnya hasil pembelajaran, pendidikan tinggi Indonesia juga menghadapi tantangan dalam tata kelola, yang dibayangi oleh disparitas akses pendidikan yang bersifat struktural. Tata kelola pendidikan tinggi masih diwarnai oleh ketimpangan kualitas. Ada banyak PTS dengan jumlah mahasiswa kecil dan kualitas yang rendah (71% dari 3700 PTS). 

Secara institusional, banyak perguruan tinggi yang tata kelola internalnya masih belum sehat. Hasil penelitian akademik belum dikelola secara optimal, terbukti dengan masih rendahnya pemanfaatan hasil penelitian oleh industri. 

Tidak dapat disangkal bahwa pendanaan pendidikan tinggi Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Di balik permasalahan yang dihadapi pendidikan tinggi di Indonesia adalah disparitas akses pendidikan antar kuintil ekonomi masyarakat. Di kuintil bawah, hanya 10% penduduk yang mengenyam pendidikan tinggi. 

Di sisi lain, akses seperlima teratas telah mencapai 60%. Perbedaan akses ini bersifat struktural dan terjadi di semua jenjang pendidikan, termasuk sekolah menengah pertama. Ada beberapa cara untuk meningkatkan potensi pendidikan negara. Upaya pembangunan tersebut tentunya tidak dapat dipisahkan oleh berbagai pihak. 

Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting. Negara yang besar dapat lahir dari keterlibatan seluruh masyarakat dan pemerintah dalam pembangunan pendidikan. Pendidikan tidak meninggalkan negara ini. 

Hal ini dapat terjadi karena pendidikan dapat lebih meningkatkan potensi warga negara Indonesia. Jadi bagaimana Kita meningkatkan potensi pendidikan negara Anda? Informasinya adalah sebagai berikut:

Upaya pengembangan potensi pendidikan masyarakat Indonesia 

Dalam situs Kemendikbud.go.id, Kami mencantumkan tiga strategi yang diterapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Iptek untuk memajukan pendidikan. Tiga hal tersebut adalah:

Ada pelatihan guru

Mengingat guru merupakan garda terdepan pendidikan di Indonesia, maka perlu adanya pelatihan bagi guru untuk lebih mengembangkan pendidikan di Indonesia. 

Ada keterlibatan orang tua

Bagaimanapun, pendidikan dimulai di rumah. Sayang sekali orang tua menyerahkan pekerjaan pendidikan mereka kepada guru saja. Orang tua dan lingkungan berperan besar dalam membentuk kepribadian siswa. 

Ada keterlibatan siswa. 

Keterlibatan siswa diperlukan agar guru dan pihak sekolah mengetahui proses pendidikan dan pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan.